Berjalan menitik senja yang tidak kunjung mereda. Banyak tuan dan puan yang mengembara 20 tahunnya. Bentuk sakit yang paling sakit sudah menjadi titik pemisah antara bahagia dan duka.
Aku tau bahwa bahagia tidak pernah jalan ditempat, ia seperti layaknya matahari yang terbit dan tenggelam pada masanya. Aku tau bahwa berduka tidak akan terjadi selamanya juga. Ketika tertawa dan bersedu dera adalah hakikat yang tidak pernah memisah.
Aku mengatasnamakan diriku sendiri, menyatakan menyerah kepada hidupku akhir - akhir ini. Aku yang setiap hari menyalahkan diriku sendiri sebab kerap kali gagal mengusahakan hidupku sendiri. Aku yang sendiri dan tanpa cinta ini ingin menghilang dari muka bumi yang setajam belati. Aku dan luka - luka yang selama ini tidak pernah terobati. Aku yang menyiksa diriku sendiri.
Aku yang siang tertawa terbahak-bahak dan malam yang menjadi manusia paling cengeng. Aku yang sangat lemah dan tidak pernah menjadi kuat dengan mengatasi segalanya sendiri. Dan aku yang tidak mau merepotkan siapapun dengan perasaanku.
Aku yang akan mengusahkan baik-baik saja didepan siapapun kemudian menjujurkan diriku tepat ketika aku sudah mengunci kamarku. Aku yang selalu menyanggahkan ketidak-baik-baik sajaanku ini dan juga aku yang lemah terhadap air mata.
Ternyata menjadi sok kuat juga menyakitkan yaa....
Ternyata menjadi dewasa juga tidak sebaik itu. Ada air mata yang harus dibayar, ada senyum yang selalu harus ditebarkan. Ada juga banyak hal yang tidak perlu dirasakan.
Bagaimana jika kelak aku menjadi manusia gagal nanti?
Komentar
Posting Komentar